Potret

Posted by Abdul Gaffar on Aug 8, '08 9:13 PM for everyone
Rasanya sudah berabad-abad saya tidak pulang dan melihat suasana negeri sendiri. Tanggal 1 dini hari yang lalu, saya harus pulang usai kasak-kusuk selama total empat tahun di Perth, memanfaatkan uang para pembayar pajak Australia yang saya dapat lewat skema Australian Development Scholarship (ADS).

Jelas ada kecemasan ketika harus meninggalkan semua keteraturan di kota Perth, menuju beragam ketidak-pastian yang jamak didapati di negara dunia ketiga seperti Indonesia. Tapi juga ada kegairahan akan hal-hal baru yang mungkin segera akan saya alami begitu balik ke negeri sendiri. Perasaan-perasaan itulah yang begitu hebat berkecamuk, saling tarik-menarik dalam benak saya dalam beberapa minggu sebelum hari kepulangan ke Indonesia. Tapi yang pasti, ada keharuan yang meluap-luap ketika tiba saatnya betul-betul harus pulang. Kunjungan teman-teman ke rumah di Victoria Park di malam kami akan berangkat, serta keriuhan sebagian dari mereka yang turut mengantar ke Perth Airport, pada akhirnya berkulminasi di satu titik: uraian airmata -- kendati kukuh ditahan karena gengsi akibat jajahan pikiran maskulinis bahwa lelaki pantang menangis.

Tapi sudahlah. Mungkin sudah bawaan lahir saya untuk melihat segala sesuatu dari sudut enaknya saja. Di tengah keharuan itu benak saya reflek saja membayangkan menu-menu makanan lezat di Indonesia. Yak betul... betapa telah lamanya saya tak menikmati keindahan kuliner yang sejati: bakso pinggir jalan, sate ayam yang dijajakan keliling, gudeg lesehan di Yogya. Di Perth tentu saja ada semua makanan itu. Bakso, sate ayam, bahkan gudeg, mudah saja kita dapat. Datangi saja restoran Indonesia manapun, hampir pasti bakso, nasi goreng dan sate ayam akan menjadi menu andalannya. Bahkan organisasi masyarakat Islam Indonesia di Perth (Perth Indonesian Muslim Society Incorporated, PIMSI) paling rajin mengadakan satay fair untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan masjid di sana. Intinya: soal makan bakso dan sate sebenarnya tetap jalan terus di Perth. Tapi keindahan makanan baru akan sempurna jika makanan itu tersaji dalam konteks sosial yang tepat. Bakso baru akan terasa lezat jika ada intro suara ting... ting... ting... dari mangkok yang diketuk pakai sendok oleh si penjaja. Sate ayam juga baru terasa ke-adiluhung-annya jika disantap seusai telinga kita berdengung gara-gara teriakan penjualnya: "teee..."

Semua itu tak ada di Perth.

Maka untuk menggagahkan dan menguatkan hati, kemarin malam dalam perjalanan ke Perth airport saya tetapkan bahwa tema perjalanan saya kali ini adalah: so what... :-)) Yup, so what. Maksudnya seperti ini kira-kira: memang betul Indonesia tidak sebersih dan semakmur Australia. Tapi so what, makanannya dan tradisi kulinernya jauh lebih dahsyat. Memang betul segalanya serba teratur di Australia. Tapi so what, bukankah segala sesuatu lebih lentur dan penuh seni untuk dijalani di Indonesia. Dst...

Dengan itenerary yang rada ruwet, saya jalani lakon so what itu. Untaian perjalanan selama beberapa hari itu adalah: Perth-KL, KL-Surabaya, Surabaya-Denpasar, Denpasar-Surabaya, Surabaya-Probolinggo jalan darat, lalu Probolinggo-Surabaya, dan Surabaya-Sumenep. Urusan ke Yogya, nanti saja dulu. Saya masih ingin dalam invisible mode untuk beberapa waktu agar gak keburu dikejar oleh kerjaan ;-).

Di Bandara Juanda sudah terasa betapa mudahnya urusan. Saya tak bicara soal urusan imigrasi dan dokumen yang kadang memberi pengalaman buruk bagi sebagian orang. Saya bicara tentang betapa enaknya urusan angkut2 barang dan koper. Di ruang pengambilan bagasi, orang2 berseragam dengan tulisan "Porlap" di punggungnya siap membantu kita mengangkut barang ke mobil, dengan bayaran cuma Rp. 2.500 per barang. Kita tinggal tunjuk dan jalan lenggang ke luar. Tentu saja kalau dibayar sedikit lebih, mereka akan lebih senang. Dalam hati saya bersorak: "Yes we have corruption in this country, but so what, at least I don't have to push a troley full of heavy luggages at the airport. Helps are always available..." Ketika esoknya saya kembali ke bandara untuk berangkat berlibur ke Denpasar, para Porlap itu (entah apa ya kepanjangan 'Porlap' itu) sudah siap menunggu di parkiran, siap untuk membawakan barang2 kita sampai ke check-in counter. Benar2 effortless dan hassle-free :-))

Di Surabaya, jalanan memang selalu macet; polusi juga sangat terasa jika dibandingkan dengan Perth yang bersih dan rapi-jali. Tapi mampir ke supermarket, saya bisa tertawa riang sambil mbatin: memang lalu-lintas negeriku sering macet dan penuh polusi, tapi so what, yang penting harga manggis dan belimbing gak mahal minta ampun seperti di Perth... :-)) Dan soto ayam itu... beuh, kelezatannya masihlah sangat dahsyat.

Di Bali, lalu di Probolinggo, banyak lagi hal-hal "so what" yang bisa saya temukan. Di Kuta (halah, yang pol-polan meng-etalase maksiat di mana2 itu), saya lihat banyak sekali toko yang menjual DVD dan software bajakan dengan harga Rp. 10.000,- per keping. Saya simak di sana, yang banyak belanja DVD bajakan justru para turis bule. Hehehe... saya ketawa dalam hati. "Negara ente teriak2 soal pelanggaran hakcipta di Indonesia, tapi toh ente-ente juga yang belanja DVD bajakan di Bali". Yes, ada masalah pembajakan di Indonesia, tapi so what, konsumennya juga orang2 dari negeri kampiun hak cipta itu. Setidaknya orang Indonesia tidak munafik dalam urusan bajak2an ini.

Dan buat yang suka jepret2 (dengan kamera maksudnya, bukan jepret dengan karet gelang hehehe...) Indonesia ternyata sangat menyenangkan. Di Australia, orang2 dan aparat rada2 paranoid sehingga kita tak bisa jepret sembarangan. Tapi di Indonesia, orang tak pernah memasalahkan siapapun yang tiba2 menghadapkan kamera ke arahnya. Di Perth saya pernah mencoba teknik panning di ke arah mobil2 yang melintas di jalan raya, dan seorang pengemudi mobil menekan klaksonnya sebagai tanda protes terhadap saya. Itu tak terjadi di kampung tercinta. Jadi biar kadang negeri kita terlihat kumuh, tapi so what, setidaknya orang2nya tidak paranoid... :-))

Ya sudah, ini sebagian dari hasil jepret2 yang menyenangkan tanpa beban ketakutan akan seabrek aturan dan orang2 yang paranoid. Hasil jepretan lain menyusul -- kalau cukup waktu utk mengeditnya. Tahu sendirilah, segala macam soto, sate, nasi padang, dan kawan2nya sangat menyita waktu di sini. Hehehe...



Sendang dan pancuran di Tirta Empul
 1 Comment 

Sendang dengan pusaran air
  

Pura di Tirta Empul
  

Gazebo tua di atas danau
  
Istana Tampak Siring
  

Sihir keindahan alam
 2 Comments 
Balutan halimun tipis di Kintamani
  

Warna-warni ceria di Pasar Sukawati
 2 Comments 

Ukiran... ;-)
 3 Comments 

Dari mana saja inspirasinya ya...?
 4 Comments 

Menyambut senja di Ulu Watu
  

Puri Ulu Watu
  

Sunset di Ulu Watu
  

Dinner di Menega Cafe
  

Pelabuhan Probolinggo
  

Bersandar,
  

Menambatkan diri
 1 Comment 

Menyalin warna pelangi di ornamen perahu
  

Negeriku, penuh spanduk
 2 Comments 

Belimbing...
  

Kembar...
 2 Comments 

Panning
 2 Comments 


49 CommentsChronological   Reverse   Threaded
Comment deleted at the request of the thread owner.
sopiahyar wrote on Aug 11, '08
ramenyaa
imamisnaini wrote on Aug 11, '08
agk1 said
Di Perth saya pernah mencoba teknik panning di ke arah mobil2 yang melintas di jalan raya, dan seorang pengemudi mobil menekan klaksonnya sebagai tanda protes terhadap saya.
ternyata kehati-hatian berlebihan itu tidak baik juga, minimal menyakiti orang lain karena merasa dicurigai...
dottt wrote on Aug 11, '08
ih mau dong kerudung nya....
buneyasmin wrote on Aug 11, '08
Subahanallah indahnya...
Welkamhom ya Mas... Asyik dunk pulang ke kampung halaman.... So what kalau di negeri kita cuma ada 2 pasal peraturan:

Pasal (1) Tidak ada peraturan
Pasal (2) Kalau sampai ditemukan peraturan, lihat pasal 1

He he....
agk1 wrote on Aug 11, '08
ramenyaa
... dan murah meriah
agk1 wrote on Aug 11, '08
ternyata kehati-hatian berlebihan itu tidak baik juga, minimal menyakiti orang lain karena merasa dicurigai...
namanya jg paranoid :-))
agk1 wrote on Aug 11, '08
dottt said
ih mau dong kerudung nya....
sama patungnya juga boleh :-))
agk1 wrote on Aug 11, '08
Pasal (1) Tidak ada peraturan
Pasal (2) Kalau sampai ditemukan peraturan, lihat pasal 1
akurrr...
cupppz wrote on Aug 11, '08, edited on Aug 11, '08
agk1 said
memang betul Indonesia tidak sebersih dan semakmur Australia.
Welcome back my dear bro..

we need u here...
Indonesia ku, Indonesia mu..
Belajar di negri orang.. stlah pandai.. akhir nya kembali juga..
Menerima keadaan bangsa ini apa ada nya, memandang negri dengan cinta hingga yang nampak hanya sisi baiknya saja..

what can i say to u? u damn great...
yeah... i'll learn from u to say "so what" ehehe :)
wishing u all the best bro.. success! gbu
rumahmutiara wrote on Aug 12, '08
Tuh kan...
Bahkan ilmu "panning' pun baru berhasil bila dipraktekkan di negeri sendiri :)
myhartono wrote on Aug 12, '08
well homecoming mas gaffar !
ceritanya menarik !
mungkin bener kalo wong londo bilang
meskipun hujan uang di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, tetap saja negeri sendiri sll akan memanggil kita kembali, karena.....
karena di sini kita dilahirkan dan dibesarkan...
so what ??? mungkin saatnya kini kita hrs mengabdi he....he...
sorry mas komennya panjang, mudah2an suatu saat saya bs ketemu pak dosen gaffar, amiin
fathima35 wrote on Aug 12, '08
welcome home mas, hmmm udah menikmati udara panasnya surabaya mas, yang ngangenin ....hehheheheh

jangan lupa kulinernya mas surabaya kan terkenal dahsyat tuh kuliner2nya.

hobbygue wrote on Aug 12, '08
gk cuma spanduk, negeri kita ini penuh janji juga, mas,
ada yg memang menjanjikan, tapi lebih banyak yg cuma janji-janji :D
mas budi & mbak emmy itu juga kok belum kembali2 ya?
agk1 wrote on Aug 12, '08
Tuh kan...
Bahkan ilmu "panning' pun baru berhasil bila dipraktekkan di negeri sendiri :)
blajarnya di negeri org, prakteknya di negeri sendiri...
agk1 wrote on Aug 12, '08
cupppz said
wishing u all the best bro.. success! gbu
... and you too
agk1 wrote on Aug 12, '08
well homecoming mas gaffar !
ceritanya menarik !
mungkin bener kalo wong londo bilang
meskipun hujan uang di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, tetap saja negeri sendiri sll akan memanggil kita kembali, karena.....
karena di sini kita dilahirkan dan dibesarkan...
so what ??? mungkin saatnya kini kita hrs mengabdi he....he...
sorry mas komennya panjang, mudah2an suatu saat saya bs ketemu pak dosen gaffar, amiin
makasih komennya yg panjang. mudah2an kita bisa ketemu...
agk1 wrote on Aug 12, '08
jangan lupa kulinernya mas surabaya kan terkenal dahsyat tuh kuliner2nya.
jelas gak lupa dong... sudah sampai jontor kepedesan :-))
agk1 wrote on Aug 12, '08
mas budi & mbak emmy itu juga kok belum kembali2 ya?
mereka lagi sibuk... termasuk njuragani ESQ di Perth :-))
ceretch wrote on Aug 12, '08
Welcome home :)
Kira-kira tanggal 23 masih di Sumenep gaak?
Kan kita mau kesanaaaa tuuuhh
nenengburinyay wrote on Aug 12, '08
pulkam??? seneng nya.....have fun yah
admonike wrote on Aug 12, '08
ini apa aja ya sebetulnya?
balitaranto wrote on Aug 12, '08
ternyata punya bakat terpendam di foto2 an ...
agk1 wrote on Aug 12, '08
ceretch said
Welcome home :)
Kira-kira tanggal 23 masih di Sumenep gaak?
Kan kita mau kesanaaaa tuuuhh
Bisa diatur bosss... count me in ya.
agk1 wrote on Aug 12, '08
pulkam??? seneng nya.....have fun yah
have fun, have food, have semuanya deh... :-))
agk1 wrote on Aug 12, '08
ini apa aja ya sebetulnya?
kayu semua kayaknya... :-))
agk1 wrote on Aug 12, '08
ternyata punya bakat terpendam di foto2 an ...
hehehe... nafsu terpendam tepatnya.
rares wrote on Aug 13, '08
loh udah balik ke Indonesia toh?
kita tinggal tunggu giliran deh nanti...
agk1 wrote on Aug 13, '08
rares said
loh udah balik ke Indonesia toh?
kita tinggal tunggu giliran deh nanti...
... buruan.
rares wrote on Aug 13, '08
agk1 said
... buruan.
wah gak perlu cepet2 lah... lagi enjoy dengan udara bersih, gak macet, outdoor activities, antri tertib, jogging di pantai yg bersih, piknik ke hills, naik bis nyaman kekantor :p

Alhamdulillah punya istri yang jago masak jadi gak terlalu masalah dengan makanan... hehehe...
agk1 wrote on Aug 13, '08
rares said
wah gak perlu cepet2 lah... lagi enjoy dengan udara bersih, gak macet, outdoor activities, antri tertib, jogging di pantai yg bersih, piknik ke hills, naik bis nyaman kekantor :p

Alhamdulillah punya istri yang jago masak jadi gak terlalu masalah dengan makanan... hehehe...
waaa... jadi kangen lagi sama negeri sana :-((
ariosusanto wrote on Aug 14, '08
gus, mohon maaf ndak nganter, maklum deh dikejar2 deadline, tahu sendiri dunia konstruksi Perth.
Eniwei, saya sebenernya kurang setuju dengan pandangan 2 kelas ala Indonesia, ada kelas yang dilayani dan melayani. Memang nikmat buat yang dilayani, dan yang melayani terkadang ikhlas bahkan memuji jika diberi lebih. Cuma ya itu kan karena sudah jamak dan umum, jadinya yang mungkin 'dholim' jadi 'adil'. Kita sering melihat dunia barat kapitalis, imperialis, namun Allah maha adil dengan memberi mereka beban kerja, peraturan dan mortgage yang mengekang. Sayangnya di kampung halaman kadang kita lupa sama keadilan buat si 'pelayan'.
Memang kita jangan berharap adanya revolusi fraternite-egalite di Indonesia.. cukup nyanggong beli sateee..
Mudah2an bisa ketemu ya insyaAllah di Yogja bulan Oktober..

Ario
agk1 wrote on Aug 15, '08
Mudah2an bisa ketemu ya insyaAllah di Yogja bulan Oktober..
wahh... jgn lupa email saya sebelumnya ya... nanti ketemuan di Ygy.
balitaranto wrote on Aug 18, '08
ukiran apa nih?
balitaranto wrote on Aug 18, '08
lho koq ada lagi? tapi warna beda?
agk1 wrote on Aug 18, '08
ukiran apa nih?
cicak kayaknya... :-))
agk1 wrote on Aug 18, '08
lho koq ada lagi? tapi warna beda?
hehehe.. beda suku mungkin
hannysanjs wrote on Nov 11, '08
Lho, sudah pulang tho?
agk1 wrote on Nov 12, '08
Lho, sudah pulang tho?
sudah bos..
hannysanjs wrote on Dec 8, '08
Wah baru mau dikunjungin ke Perth, eh Lord Majornya sudah pensiun huahahahahaha....

agk1 wrote on Dec 8, '08
Wah baru mau dikunjungin ke Perth, eh Lord Majornya sudah pensiun huahahahahaha....

... bisa diangkat kembali kok hehehe...
judexkerenz wrote on Jul 6, '09
agk1 said
Hasil jepretan lain menyusul -- kalau cukup waktu utk mengeditnya. Tahu sendirilah, segala macam soto, sate, nasi padang, dan kawan2nya sangat menyita waktu di sini. Hehehe...
siiipp... tapi di Suroboyo mbok ya mampir tempatku toh mas, cuman 5KM dari Juanda
judexkerenz wrote on Jul 6, '09
manis komposisinya
judexkerenz wrote on Jul 6, '09
jiaaaaa so what gitulloh, toh ada juga yang motrek (n ngasih komen). salah... maksudnya, masih ada yang beli.
judexkerenz wrote on Jul 6, '09
warna warni indonesia
agk1 wrote on Jul 6, '09
thx... iya ntar kalau ke Sby tak kabari ya...
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
judexkerenz wrote on Jul 6, '09
sip markusip
Add a Comment